0

TUHANNYA GILI

G: Mama, sun shine terus.. Sun ada teachernya?M: Sun ada teachernya, namanya Tuhan

G: Who’s Tuhan?

M: Tuhan itu love

G: Kayak mama papa love Gili? 

M: Yes.

G: Gili love Tuhan?

M: Do you love mama? 

G: Yes

M: Do you love Mr. Sun?

G: Yes, and doggies and pizza and cars

M: Kalo gitu Gili will love Tuhan. Nanti kenalan dulu ya..

G: Can i call Tuhan now? 
😅
Sabar ya bocaah… One step at a time 😘
-Gili almost 4yo-

0

Cinta

Punya kalung yang kadang terlalu berat buat dipakai, punya gelang yang seringkali ingin dilepas.
Punya senyum yang gak bisa dikembalikan, punya air mata yang tak bisa ditukar.
Punya kata cinta yang ditahan, punya kenangan yang seringkali ditenggelamkan.

Punya kalung yang ingin dibanggakan, punya gelang yang tak ingin dilepaskan.
Punya senyum yang meneduhkan, punya air mata yang menyejukkan.
Punya kata cinta yang ingin dinyanyikan, punya kenangan yang terus digenggam.

Tidak selalu indah. Tidak selalu melelahkan.

Cinta.

0

And the story goes

G: “Mama..tell story!”
M: “Okay, tentang apa? Cat?”

G: “Yes! Cat di taman Gili”

M: “Ada cat di taman Gili, diajak main sm dog”

G: “Gak dog! Whale!”

M: “Jadi ada whale jump dari water dan ajak cat main. Catnya kaget liat ada whale di tamannya. Trus dia naik ke atas pohon”

G: “Save the cat, mama! Save the cat!

M: “wiuuuw wiiiuww wiuuuuw..fire fighter dateng untuk save the cat”

G: “No! Ada rocketship in the sky! Going down! Wuuuuushhh! ”

M: “Jadi rocketshipnya save the cat?”

G: “Bukan..rocketship jemput Gili ke Hero”

M: “Hoo..mau beli apa di Hero?”

G: “Beli turtle & brocolli & jagung buat goose”

M: “Loh, goosenya ada di mana?”

G: “Up in the tree sama cat”

M: (Hooo masi nyambung ceritanya) Jadi goosenya nemenin cat di atas pohon? Makanya gili beliin jagung buat  goose-nya? Biar goose-nya turun dari tree?”

G: “Engga.Barusan goose-nya udah turun pake rainbow sm cat. Sekarang mau main slide sm Gili. The end. Bye bye got to go”

   
 


Gili, 3 tahun

0

Beautiful Mind

Usia Gili sudah hampir 3 tahun.

Dari bayi yang tak berdaya, hingga sekarang sudah tumbuh jadi anak yang punya pikiran dan kemauan.

Gili mulai pilih baju sendiri, pilih makanan yang dia mau dan mulai bisa bernegosiasi untuk mendapatkan mainan yang dia mau.

Baju kesukaannya adalah baju monkey yang warna kuningnya sudah hampir pudar. Sepatu kesukaannya dipilih saat belanja bulanan. Sepatu karet sederhana berbentuk ikan berwarna biru, yang tidak ada pembeda antara sepatu kanan dan kiri. Mobil mainan kesukaannya adalah mobil yang mirip mobil papanya, hanya bedanya, warnanya hijau. Pilihannya belum dibatasi oleh harga dan estetika. Dia hanya pakai yang membuat dia nyaman. 

Setiap pagi, dia terbangun dan mulai absen, “Papa ada? Mama ada?” . Setelah itu seiring berjalannya hari, Gili akan melanjutkan absensi. Tidak ada orang terdekat yang  lolos dari ingatannya, mulai dari Nini, Aki, Nining, Bibi, Om Rico, Pak Rohman, Pak Yaya, Mama Tyas, Abang Evan,  Papa Abang, Atok, Om Sinat & Om Rizal. 

Selanjutnya, biasanya Gili akan bertanya, “Hujan ada? Aeroplane ada? Mobil orang ada?” Pertanyaan yang sama setiap hari. Bosan? Belum. Karena dalam kesederhanaan pikirannya, aku selalu ingin tahu akan dibawa ke mana lagi pikiranku hari ini.

Seperti hari ini. Saat mendengar gemuruh petir, Gili bertanya, “Awan ujan bunyi?” Dengan kosakata yang masih terbatas, dia bisa menjelaskan imajinasi dan pikirannya tentang dari mana asal suara itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, Gili belum pernah menembus langit atau membaca buku tentang asal usul petir. Terlepas benar atau tidak, rasanya aku masih belum berhak mengatur pikirannya.

Baru saja Gili kembali datang dengan kalimat yang membuatku tersenyum, “Udah gelap, langitnya dibuka biar nyala, mama” . Pernyataan yang sederhana, haruskan aku jawab dengan ilmu pengetahuan? Ataukah kubiarkan saja ia menguasai ilmu kesederhanaan?

Lagi-lagi aku masih merasa belum ingin mengusik imajinasinya dengan realita. 

Pikirannya masih terlalu indah, bahkan terkadang membuatku iri.

Aku sudah menjadi manusia dengan segala keterbatasan. Sejak kapan ya aku berhenti menjadi orang dengan pikiran sesedehana Gili? Apakah karena tuntutan dunia? Tingkat kedewasaan? Gengsi? Atau karena terlalu banyak tahu?

Saat keterbatasan kosakata menjadikan Gili sosok manusia tanpa keterbatasan pemikiran,  aku malah tumbuh menjadi manusia yang terisolasi dengan “kata-kata”. Buat aku planet ya planet, tapi buat Gili planet itu di langit pocoyo, temennya star, moon dan shapenya circle kayak papa”.

Kadang suka berpikir, benarkah Gili harus belajar banyak dari manusia seperti aku? Entah kenapa aku merasa lebih banyak belajar darinya.

Seakan dia terlahir untuk menyederhanakan pikiranku atau sekedar mengajariku untuk menemukan keindahan dalam keterbatasan. 

Hampir 3 tahun kamu bersamaku. Lucky me, bisa menyaksikan ketulusan jiwa yang selalu tersenyum melihat dunia. 

Aku tidak akan mengubahmu. Dan berharap dunia tidak akan membatasimu. 

Aku hanya bisa menawarkan pelukan dan kehangatan. Karena itulah satu-satunya jiwa masa kecilku yang tersisa, yang akan kuberikan sepenuhnya untukmu.

Selamat tidur, beautiful mind.

 



0

Yes! I am that kind of mom.

Dulu suka pusing ngeliat ibu-ibu yang terlalu kompetitif. Yang ngomongin anaknya seakan-akan anaknya paling bisa segala-galanya. Yang kalo lagi ngomongin anaknya udah bisa ini itu, yg lain gak mau kalah.

But, you know what? Slowly, i become one of them. Cuma paling gak i try to listen first..sebelum ngebangga-banggain anak sendiri (bela diri dulu 😛😛😛

Anyway, beruntung aku dikelilingi crazy moms yang (pastinya) ngebangga-banggain anaknya dengan segala kelebihannya, tapi sekaligus tanpa malu cerita juga tentang “pembelajaran” anak-anaknya. Ada yang anaknya susah bersosialisasi, susah makan, suka mukul, bisa ngeliat mahluk halus, belom bisa ngomong di usia yang cukup atau the latest subject adalah belom bisa sayang anak.
Kadang- kadang subject pembicaraan kita bisa terlalu deep sampe sempet bengong dulu sebelum lanjutin diskusi. Tapi ya karena grow up bareng, we don’t judge each other. We don’t always came up with a solution..tapi setidaknya bisa sharing pengalaman untuk saling bantu, saling update atau malah nangis bareng setiap denger ada berita PRT sakit jiwa. We don’t talk about politic that much.

Yes, we are ordinary mom. Yang isi handphonenya 80% tingkah anaknya. Yang 90% pikirannya adalah makan apa ya anak gue hari ini? Yang diam-diam kompetitif kalau anak lain dipuji-puji. Dan, senyum-senyum bangga kalo anak kita yang dipuji-puji.

“berlebihan” sama anak? Pastinya! Saat melahirkan, bukan hanya bayi kita yang diambil, tapi juga hati kita. The baby is the owner of our heart.
Setiap hari pasti tumbuh satu kekhawatiran. Setiap hari pasti ada aja yang dicurigain dan setiap detik we love them more and more, sampai kita rela jadi bayang-bayang mereka. Rela anaknya dibilang ganteng, padahal kita udah setengah mati dandan. Rela ngabisin duit make up buat beli makanan kesukaan anak. Rela kakinya kapalan, buat nemenin anaknya main-main di rumput. (Yang masih belom rela baby fatnya sih..boleh loh pergi jauh-jauh 😛😛😛)

Masih banyak banget yang musti dipelajari. Masih banyak lagi pengalaman yang musti dicari. Yang penting (personal thoughts) you have to know your limit. It’s actually is about winning and loosing. Bukan dalam arti kompetisi. Tapi mencoba berhenti untuk mengalah dengan waktu. Jangan berlari terlalu jauh, jangan berharap terlalu banyak. Karena pasti semua ada waktunya.

PS: setelah nulis ini..baru sadar..i just gave up my job.Ternyata it’s not that hard dan ternyata gak jadi top of mind tuh. Semua pilihan pasti ada resikonya, tapi kalo dijalanin tanpa ngeliat itu jadi beban, kayaknya bisa lancar-lancar aja.

For moms out there…you don’t have to be super mom. Just respect your choices, and time will give you everything 😘😘😘

IMG_5326.JPG

IMG_5221.JPG

IMG_5199.JPG

IMG_5148.JPG

IMG_5631.JPG

0

Ngomong apa sih, Gili?

Suka bingung kalo ditanya, “Gili udah bisa ngomong?”

Ummm…dibilang bisa ya belom, dibilang belom ya bisa sih dikit-dikit.

Well anyway,

Here’s Gili’s little dictionary:

“Mama”

Beruntung, kata pertama yang disebutnya adalah “mama”. Walaupun, awalnya gak cuma ditujukan ke aku aja, tapi ke semua orang yang lewat. Suatu hari ter

“Thoothoot”

Awalnya, dia belum bisa membedakan benda yang beroda, semua disebut “thoothoot”. Mulai dari mobil, truk, bis, angkot, sampe gerobak sampah.

“Papa”

Papa mungkin kata kesukaan Gili so far. Gaya manggilnya pun beda-beda, mulai dari berbisik, dinyanyiin, sampai tereak lantang. Dan sekarang, setiap liat mobil papanya atau mobil (dengan merk yang sama), pasti dia dengan histerisnya tereak “papa! papa!”

“Aki”

Panggilan sayang untuk kakeknya. Apalagi kalo minta diajak jalan-jalan.

“Nenen”

Bukan minta nenen. Tapi ini panggilan buat  nini dan ninengnya. Manggilnya bisa lembuuuut banget sampe nini atau ninengnya luluh dan ngikutin apa maunya.

“Suta”

Pagi-pagi bangun tidur, langsung nyari “suta”, nama panggilan suster atau si ncus.

“Tuk Tuk”

Maksudnya adalah “truk”. Truk molen, truk tinja, truk sampah, truk bangunan, truk bensin..semuanya dipanggil “tuk tuk”

“akhi”

Lagi-lagi jenis mobil. “akhi” adalah “taksi” menurut versi Gili.

Tapi seiring kalau penekanannya di belakang..”akhiiiiik” itu artinya “parkir” hihihihi. Biasanya diikuti gestur tukang parkir waktu bilang, “truuus truuus!”

“Eoooong”

Udah pasti ini panggilan untuk kucing. Jadi inget, beberapa waktu yang lalu, Gili pernah punya temen anak kucing yang selalu ngikutin dia setiap keluar rumah.

From “guguk” to “anying”

Satu lagi binatang favorit Gili. Gili bener-bener gak takut deket-deket sama anjing. Mau digonggonging atau anjingnya menggeram, tetep aja dia samperin dang ikutan menggeram.

“Oti”

Nah kalo ini makanan kesukaan Gili, “roti”. Suatu hari, Gili yang pules banget tidurnya, langsung terbangun dan lari ke depan karena denger suara tukang roti dari kejauhan. Dan pernah ada kejadian lucu, Gili (di depan tukang roti, tentunya) dengan pedenya bilang, “Om, Oti dua!”…dan saat itu lagi gak pengen beli roti hihihihi…oh well.

“Uwaa”

Lagi-lagi ini tergantung penekanan. “uwaaaa” berarti minta “buah”. Sedangkan “uwa-a” berarti “buaya”. *mulai tebak-tebakan kata.

“Ci ca”

Sambil liat dinding, cari “ci ca” merayap. Kalau nemu, langsung panggil yang lain biar liat juga.

“Bi bi”

Punya makna ganda juga. Bisa berarti “bis” tapi bisa juga panggilan sayang buat  “tante bi”

Hmm..apalagi ya..?

Belum banyak sih kosa katanya Gili, tapi sebagai mama (yang posesif), aku cukup bangga menjadi top ten kata pertamanya Gili *hidung kembang kempis.

…dan mudah-mudahan tetap menjadi “kata pertama”  sampai dewasa nanti.

0

Mengenalmu

Menjadi ibu berarti saatnya berdiri di belakang, untuk melihatnya maju.

Menjadi ibu berarti siap dipunggungi, hingga saatnya ia berpaling untuk tersenyum.

Menjadi ibu berarti harus diam, untuk mendengarkan impian terkecilnya.

Menjadi ibu berarti siap untuk menghilang, supaya ia bisa menemukan dirinya.

Menjadi ibu berarti harus siap menangis, untuk membuatnya siap menghadapi cinta.

Love to love you.

20140206-131445.jpg

20140206-131505.jpg

20140206-131531.jpg

20140206-131551.jpg

20140206-131612.jpg